Postingan

Belajar Sepanjang Hayat

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Ketigabelas 20 Desember 2017 Perkuliahan filsafat ilmu pertemuan terakhir ini membawa pada sebuah pesan, bahwa menuntut ilmu itu tidak pernah berhenti. Dalam beberapa pertemuan sebelumnya, pemikiran tentang life is a research, teacher is a researcher, telah berkali-kali diungkapkan. Jika hidup ini adalah sebuah riset, maka hidup adalah sebuah riset yang panjang. Riset itu mensyarakatkan keadaan belajar. Maka belajar itu sepanjang hayat tanpa berhenti juga. Sesederhana apa pun, pastilah dalam keseharianpun kita bertanya dan melakukan pengamatan. Dalam batas-batas kebimbangan, kekacauan pikiran, kita akan memperoleh hal baru, ilmu baru, sesuatu yang baru dan berarti untuk hidup kita selanjutnya. Riset hidup saya, belajar saya, juga sudah berlangsung sepanjang hidup. Sejak saya berada dalam kandungan, saya telah belajar mendengar ibu, ketika lahir saya menangis sebab saya belajar menggunakan paru-paru saya untuk bernafas, setelah itu...

Seorang Mahasiswa Menggapai Belajar yang Berdayaguna

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Keduabelas 14 Desember 2017 Tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya, akan apa yang semestinya dikerjakan oleh pelajar pascasarjana untuk menyelesaikan sekolahnya. Tak hanya selesai begitu saja, namun bagaimana belajar saya akan berdayaguna, dapat saya bagikan kepada orang lain. Berikut saya tuliskan dahulu permenungan dan tips dari Pak Marsigit: Bodromoyo= ketemunya Bodronoyo dan Ismoyo. Kita hendaknya paham bahwa ada struktur, kemanunggalan, kebaikan, ada yang ingin dicapai. Setelah ketemunya Bodronoyo dan Ismoyo yaitu kesadaran diri kita tentang apa yang kita kerja dalam waktu singkat, yaitu penulisan karya ilmiah di jurnal terindeks Scopus. Anda sekarang S2 semester 1. Masih sangat relevan walau mulainya sedikit terlambat. Sekarang supaya on the right track. Anda diprediksi semester 4 akhir bisa lulus. Agustus 2019. Menghitungnya: hidup tidak linier sintaknya. Sekarang search semua silabus, kurikulum 4 semester apa isiny...

Centang Perenang Pendidikan Indonesia

Gambar
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Kesepuluh 29 November 2017 Saya hendak memfokuskan diri pada persoalan pendidikan Indonesia yang berada di perbatasan, di samping ada berbagai persoalan pendidikan yang masih menjadi PR di Indonesia. Begini bagian dari diskusi filsafat pertemuan kesepuluh yang menjadi titik tolak refleksi saya: Ini jelasnya yang sudah pernah diterangkan, Auguste Compte, meletakkan spiritual di bawah.  (https://www.academia.edu/33127016/INOVASI_PENDIDIKAN_DITENGAN_TANTANGAN_GLOBAL) Sementara Indonesia strukturnya seperti ini:  (https://www.academia.edu/33127016/INOVASI_PENDIDIKAN_DITENGAN_TANTANGAN_GLOBAL) Waktu Indonesia berdiri sebenarnya kena pengaruh itu tapi belum menyadari. Sekarang tidak mampu menanggulangi. Maka sekarang menjelma jadi dunia kontemporer. Bagaimana caranya? Watak Indonesia ambil yang baik tinggalkan yang buruk. Dari dulu Indonesia itu selalu di tengah. Di perbatasan itu sebenarnya ilmu kalau kita ...

Kisah sepasang suami istri yang memohon kepada Dewa

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Kedelapan 15  November 2017 Dalam kesempatan perkuliahan kali ini, saya bertanya, “Apa maksudnya tidak tahu hakiki diri adalah etik dan estetika tertinggi?” Demikian jawaban Pak Marsigit, “Socrates: sebenar-benar yang terjadi, orang itu tidak pernah tahu apa yang terjadi. Kalau orang sombong, merasa tahu, ya sudah dia menjadi mitos. Lalu saya ekstensikan. Kalau banyak tidak tahu, artinya ingin mengerti. Sopan dan santun adalah ingin mengerti, ingin paham itu. Maka proses menjadi sangat penting, karena produk itu sudah berhenti. Maka sebenar-benar hidup adalah dalam posisi menggapai. Aku tak bisa dalam proses mendengar sempurna, karena manusia tidak sempurna. Saya hendak merefleksikannya dalam sebuah kisah... Ada sepasang suami istri yang menantikan kehadiran seorang anak sebagai buah hati mereka. Tiga tahun sudah mereka berumah tangga, dan belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan memiliki anak. Suatu hari sang suami men...

Di Luar Pikiran

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pada Pertemuan Ketujuh 8 November 2017 Kali ini saya ingin menuliskan refleksi terkait dengan kisah Pak Marsigit tentang peristiwa masa mudanya tentang sesuatu di luar pikirannya. Begini cuplikan kisahnya: Jangan dikira kita hanya berpikir. Ada sesuatu yang di luar pikiran kita. Yang merah waktu kecil itu tidak tahu sampai sekarang. (penjelasan dari penggalan lain kisah dalam kuliah kali ini: Ketika itu malam Jumat Kliwon tidur di lantai, belum ada listrik. Radio nyala nyetel wayang. Ada benda seperti lampion dua kali bola basket menyala ke dalam. Menurut orang Jawa itu penyakit. Setelah itu sakit tiga minggu.) Ternyata 5 tahun kemudian adik perempuan lihat juga tapi di atas pohon kelapa. Tetangga juga pernah lihat lampor. Lampor itu membuatkan pemandangan indah, jalan aspal. Padahal sawah, tebing. Aku diberi warning Tuhan. Meruntuhkan pikiran saya. Aku tidak mampu memikirkan. Benda merah tadi. Aku tidur di rumah, pintu dibuka orang, ternyat...

Dua Pertanyaan, Lebih dari Dua Jawaban

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Keenam 25 Oktober 2017 Pada perkuliahan ini, saya menanyakan tentang Hermenetika . Beginilah jawaban dari Pak Marsigit, “Sadar tak sadar semua berhermenetika. Dalam filsafat semua berstruktur, berhirarki. Dari rendah sampai kompleks. Hirarki yang ada yang paling sederhana adalah wadah dan isi. Hermenetika itu perjalanan hidup manusia dalam timeline ruang dan waktu. Ternyata pada matematika hidup manusia itu sesuai garis lurus dan lengkung (siklik). Lurus karena kita akan mengalami hari Rabu lagi. Tapi Rabu yang akan datang tidak sama dengan Rabu yang ini. Sama seperti prinsip bumi mengelilingi matahari. Takkan pernah kembali ke waktu yang sama. Dinaikkan ke atas, hermenetika itu silaturahim. Diturunkan ke pembelajaran: interaksi belajar mengajar. Diturunkan ke metode mengajar: metode tanya jawab. Diturunkan ke warung: aku bayar dapat soto, itu hermenetika, terjemahkan dan menerjemahkan. Kalau sudah suami istri, semuanya baik...

Pelajaran Bertanya

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Kelima 25 Oktober 2017 Dalam perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kelima ini, kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Pak Marsigit menjawab pertanyaan kami. Hal ini menarik saya untuk hendak berefleksi mengenai bertanya itu sendiri, lebih pada dinamika bertanyanya, bukan pada pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya. Selama mengajar di SD Mangunan, saya bergulat juga dengan sebuah pelajaran khas yang bernama Kotak Pertanyaan. Di sana para siswa berhak bertanya apa saja, menuliskannya dalam secarik kertas, dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Satu hari yang disepakati dalam satu minggu, guru dan anak-anak akan membuka kotak tersebut. Lalu pertanyaan-pertanyaan dijawab. Biasanya guru akan sudah membuka kotak itu sehari sebelum dibuka di kelas, agar dapat mempersiapkan jawabannya. Ada pertanyaan yang dapat dijawab langsung, ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan mencari referensi dari buku atau video, ada pertanyaan-pertanyaan yan...

Keberadaan Tuhan

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pada Pertemuan Keempat 18 Oktober 2017 Refleksi ini saya buat berdasarkan perkuliahan filsafat pada tanggal 18 Oktober 2017 di ruang Pascasarjana lama Room 200A. “Kalau ingin ketemu Tuhan tak usah jauh jauh. Tampar saja orang sebelahmu. Kamu akan ketemu Tuhan, ditampar balik. Itu hukum Tuhan. Tuhan selalu ada dimana mana, mengikuti kita dimana-mana. Buktikan saja hukumnya. Terjun dari lantai 6, ya mati. Itu hukumnya, sebab akibat.” Dan lagi, Seorang profesor dari Michigan ikut kuliah saya, bertanya, “Mr. Marsigit mengapa setiap kuliah di awal dan akhir kamu berdoa? Apa hubungan matematika dengan doa?” Lalu kutanya, “Kau nggak percaya Tuhan ya?” “Belum. Karena aku nggak ngerti. Hidupku dituntun pikiran.” Kutanya, “Kamu tahu nggak kau akan ke sini ketemu aku?” Dijawab, “Tidak tahu.” Dua penggalan kuliah sekitar satu setengah jam ini mendasari refleksi kali ini, juga mengingat bahwa filsafat itu pada akhirnya pasti menyentuh ...

Belajar Filsafat dari Nol

Refleksi kuliah filsafat ilmu pada pertemuan kedua Belajar Filsafat dari Nol Sesuatu yang tidak saya mengerti. Hari ini kuliah dimulai dengan pertanyaan jawab singkat, pertanyaan sederhana dengan jawaban sederhana yang tak mampu saya jawab. Nilai nol untuk tes jawab singkat hari ini. Perasaan saya, biasa saja. Namun ada yang menarik dari keberhasilan Pak Marsigit melakukan nolisasi di kelas hari ini, yaitu belajar filsafat yang baik dari nol. Saya merefleksikannya, berkaitan dengan tulisan berikutnya tentang epoche. Semakin banyak membaca, semakin banyak rasanya yang tidak saya ketahui. Saya merasa ingin baca dan baca yang lain. Sayangnya, membaca tak selalu membuat saya semakin mengerti, apalagi paham. Seringkali justru menjadi bingung, karena belum tahu koneksi tulisan-tulisan itu antara satu dengan yang lain. Belum bertemu maksud suatu tulisan, sudah bertambah bingung lagi dengan tulisan yang lain. Yang terjadi, tak tahu hendak komentar apa. Ada kalanya juga membaca dan m...

Membangun Filsafat

Refleksi kuliah filsafat ilmu pada pertemuan pertama Membangun Filsafat Saya hendak memulai tulisan ini dengan apa yang ditulis oleh Montessori. Montessori adalah seorang dokter yang menggeluti dunia pendidikan anak-anak, melakukan risetnya mengenai pendidikan anak sejak usia 26 tahun sampai seluruh sisa hidupnya. Dalam bukunya ‘Children of the Universe’, Montessori menawarkan ‘Cosmic Education”. Tujuan ‘Cosmic Education’ ini adalah membimbing anak-anak untuk menjawab pertanyaan ‘Who am I?’. pertanyaan yang sangat sederhana namun sebenarnya adalah pertanyaan yang sangat mendalam, mencakup diri sendiri sekaligus alam dan kehidupan. Novel ‘Dunia Sophie’, sebuah novel filsafat, juga menyajikan pertanyaan pertama mengenai filsafat yang serupa, ‘Siapakah kamu?’. Ketika hendak masuk ke dalam filsafat, ada banyak hal berkecamuk dalam pikiran. Banyak orang mengatakan, filsafat itu sulit. Berbicara mengenai filsafat seringkali membingungkan. Atau pertanyaan yang membingungkan bisa ...