Dua Pertanyaan, Lebih dari Dua Jawaban
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan
Keenam
25 Oktober 2017
Pada perkuliahan ini, saya menanyakan tentang Hermenetika. Beginilah jawaban dari Pak Marsigit,
“Sadar tak sadar semua berhermenetika. Dalam
filsafat semua berstruktur, berhirarki. Dari rendah sampai kompleks. Hirarki
yang ada yang paling sederhana adalah wadah dan isi. Hermenetika itu perjalanan
hidup manusia dalam timeline ruang dan waktu.
Ternyata pada matematika hidup manusia itu
sesuai garis lurus dan lengkung (siklik). Lurus karena kita akan mengalami hari
Rabu lagi. Tapi Rabu yang akan datang tidak sama dengan Rabu yang ini. Sama
seperti prinsip bumi mengelilingi matahari. Takkan pernah kembali ke waktu yang
sama.
Dinaikkan ke atas, hermenetika itu
silaturahim. Diturunkan ke pembelajaran: interaksi belajar mengajar. Diturunkan
ke metode mengajar: metode tanya jawab. Diturunkan ke warung: aku bayar dapat
soto, itu hermenetika, terjemahkan dan menerjemahkan.
Kalau sudah suami istri, semuanya baik, semua
barokah. Kalau bukan suami istri itu yang dilihat hanya fisik saja. Kalau
metafisik, nilai bagus, tampan, cantik, kan di sebaliknya. Tak perlu kecil hati
yang tidak cantik, dan jangan sombong yang cantik. Yang dicari adalah yang di
belakang itu. Tumbuhan pun menggeliat mencari sinar matahari. Itu hermenetika.”
Saya semakin menyadari betapa filsafat itu
memang berada dekat, bahkan, filsafat adalah bagian dari kehidupan kita.
Hermenetika, sesuatu yang seperti ‘makanan asing apa ini’ bagi saya pada
awalnya, ternyata dapat diterangkan dengan sedemikian sederhana. Saya seperti
mengenali nama ‘apel’ untuk buah apel, yang sudah sering saya makan tapi tidak
tahu namanya. Kehidupan manusia ini pun hermenetika, demikian pula saya. Segala
peristiwa yang hadir dalam kehidupan saya itu saling berhubungan, bersiklus,
menerjemahkan dan diterjemahkan. Ada pengalaman berkesan, ada pengalaman pahit,
semua dijalani terus dan silih berganti. Peristiwa pahit yang dialami, mungkin
akan menjadi bekal bagi saya untuk peristiwa pahit lain yang saya hadapi
berikutnya. Peristiwa menyenangkan pun demikian.
Kita tak dapat mengulang kembali peristiwa dengan
perasaan yang persis sama. Pulang kampung selalu menjadi pengalaman refreshing yang
berkesan bagi saya. Suasana desa yang tanpa polusi, dengan aliran sungai di
belakang rumah dan gubuk kecil di pinggirnya, yang memungkinkan saya memandang
kehijauan rumput dan pepohonan sejauh mata memandang, selalu membersitkan kerinduan
untuk kembali. Namun setiap kembali ke sana, pengalaman dan peristiwanya selalu
berbeda, tempatnya pun sudah tidak persis sama lagi.
Teman saya, Mbak Diah, juga
menanyakan sebuah pertanyaan, tentang bagaimana filsafat memandang perkembangan
teknologi yang sedemikian pesat saat ini, semakin menguasai manusia. Beginilah
jawaban Pak Marsigit:
“Terserah
kita memilih mau kemana. Kalau definisi baik, ya bisa baik. kalau definisi buruk,
semua bisa menjadi buruk. Rumah buruk, hp buruk, dll. Maka positive thinking itu penting. Kalau negative thinking semua negatif. Kalau orang sudah negative thinking berhenti saja. Nggak
bisa berkomunikasi. Atau ganti metode berkomunikasi.
Maka hati perlu dijaga. Sebab atas kuasa Tuhan,
hati bisa mengubah manusia buruk menjadi baik dalam sekejab. Maka doa itu
penting supaya kita terjaga dalam kebaikan. Kalau Anda dari awal tak suka
dengan saya, tak usah diteruskan, karena semua yang dirasakan itu jelek semua.
Nggak ada gunanya. Kalau niatnya baik ya akan bermanfaat.
Tapi manusia ternyata sekarang beda. Dengan
metode Jawa orang dilarang melihat yang tak boleh dilihat. Apakah di antara Anda
ada yang belum pernah lihat gambar porno? Ini generasi terkontaminasi. Kita ini
termasuk generasi gombal, karena pernah melihat yang tidak boleh dilihat. Bagi
orang di Jawa sopan dan santun itu ilmu yang paling penting. Orang Jawa itu
melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat itu apes. Maka dalam ketroprak supaya
bisa menang harus sungkem. Mohon ampun atas segala kesalahan.”
Teknologi dapat menjadi berkat sekaligus
bencana. Ia seperti sebuah pisau yang tajam. Semakin diasah semakin tajamlah
ia. Semua ada di tangan si pemegang, hendak digunakan sebagai apa, dan
bagaimana. Ia bisa menjadi sarana memudahkan kerja namun sekaligus bisa menjadi
alat pembunuh. Tak sedikit kita mendengar berita mengenai keburukan yang
terjadi karena smartphone, karena berita atau postingan dalam media sosial.
Namun banyak pula mereka yang mendapat berkat dari teknologi itu, apakah itu
penghasilan, komunikasi, dll.
Hati dan pikiran itu satu. Tak dapatlah aku
mengatakan, aku bersama X tapi hatiku untuk Y. Aku bisa hadir dalam kuliah
filsafat, namun sebenarnya pikiranku ada pada pekerjaanku yang lain. Itu
berarti sebenarnya aku tidak hadir dalam kuliah itu. Lebih baik dan bermanfaat
jika aku tidak hadir dalam kuliah itu dan berkonsentrasi pada pekerjaan yang
lain. Atau jika aku ingin hadir dalam kuliah maka aku masukkan pekerjaanku yang
lain ke dalam epoche dan aku berkonsentrasi pada kuliah.
Demikian pula dengan pikiran negative dan
positif. Seorang yang banyak berpikir negative akan Nampak dalam sikap dan
kata-katanya. Pikiran negative mendorong sikap dan tanggapan negative,
melemahkan, menurunkan semangat, menciptakan suasana yang kurang nyaman.
Sementara pikiran positif mendorong sikap dan tanggapan yang positif juga,
menguatkan, meningkatkan semangat, menciptakan suasana yang nyaman dan penuh
penerimaan.
Buddha juga mengatakan, “He who envies others does not obtain peace in mind.”
Dua buah pertanyaan, lebih dari dua jawaban. Ini
saya maksudkan bahwa segala hal memiliki kemungkinan yang banyak. Dapat dipikirkan
dari berbagai sudut pandang. Suatu pertanyaan, suatu masalah, akan berkaitan
dengan banyak hal. Pertanyaan tidak hanya cukup dijawab dengan satu definisi
saja. Dan bahkan akan memunculkan pertanyaan lain, yang butuh jawaban lain, dan
terus demikian. Sikap terbuka senantiasa menjadi penting, dan kerendahan hati
akan membuat kita kaya dalam pengetahuan, pengalaman, sikap batin.
Komentar
Posting Komentar