Keberadaan Tuhan

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pada Pertemuan Keempat
18 Oktober 2017


Refleksi ini saya buat berdasarkan perkuliahan filsafat pada tanggal 18 Oktober 2017 di ruang Pascasarjana lama Room 200A.
“Kalau ingin ketemu Tuhan tak usah jauh jauh. Tampar saja orang sebelahmu. Kamu akan ketemu Tuhan, ditampar balik. Itu hukum Tuhan. Tuhan selalu ada dimana mana, mengikuti kita dimana-mana. Buktikan saja hukumnya. Terjun dari lantai 6, ya mati. Itu hukumnya, sebab akibat.”
Dan lagi,
Seorang profesor dari Michigan ikut kuliah saya, bertanya,
“Mr. Marsigit mengapa setiap kuliah di awal dan akhir kamu berdoa? Apa hubungan matematika dengan doa?”
Lalu kutanya,
“Kau nggak percaya Tuhan ya?”
“Belum. Karena aku nggak ngerti. Hidupku dituntun pikiran.”
Kutanya,
“Kamu tahu nggak kau akan ke sini ketemu aku?”
Dijawab,
“Tidak tahu.”

Dua penggalan kuliah sekitar satu setengah jam ini mendasari refleksi kali ini, juga mengingat bahwa filsafat itu pada akhirnya pasti menyentuh spiritualitas. Mengenai hal ini saya belum sepenuhnya paham. Keterbatasan manusiawi saya belum dapat menjawab sepenuhnya pertanyaan-pertanyaan jiwa mengenai filsafat dan spiritualitas ini. Saya menerimanya sebagai peringatan bagi diri sendiri untuk tetap rendah hati, dan senantiasa mencari.

Percakapan Profesor Indonesia dan Profesor Michigan di atas menjadi perumpamaan yang hidup, didasari refleksi yang dalam tentang pemahaman mengenai landasan spiritual pribadi. Jika filsafat itu adalah bertanya, dan bertanya itu tentang segala yang ada dan yang mungkin ada, dan sampai pada pencarian akar dari segala peristiwa yang dialami manusia, maka tentu akan sampai pada titik dimana kita tidak dapat bertanya lagi. Di sanalah manusia menemukan apa ‘Tuhan’. Dalam banyak hal manusia itu memilih, dan hidupnya tergantung pada pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidup. Sebab manusia memiliki kehendak bebas. Dalam banyak hal lain, ada yang seperti menggerakkan hidup manusia pula. Berbagai peristiwa yang dialami, sambung menyambung, bersangkut paut satu sama lain. Di titik ini manusia tak mengerti apa yang menggerakkannya. Tanpa sebab, intuisi.  Sang Profesor Michigan yang mengatakan bahwa hidupnya dituntun oleh pikiran, tak pernah memikirkan sebelumnya bahwa ia akan bertemu dengan Sang Profesor Indonesia. Itulah titik dimana manusia menyadari, betapa dirinya terbatas. Ada kuasa lain di atas dirinya yang juga menggerakkannya.

Filsafat itu juga adalah refleksi. Titik-titik kebimbangan, ketidakpastian, kekacauan pikiran, adalah titik dimana manusia perlu berhenti sejenak dan berefleksi, agar dapat menemukan pengetahuan baru, atau keseimbangan baru dalam dirinya. Disini saya menyadari, kekacauan pikiran itu baik, jika diikuti dengan refleksi, pencarian akan keseimbangan pikiran. Jika kekacauan hanya berhenti pada kekacauan tanpa refleksi, manusia menjadi tanpa arah, tak menentu.


Ketrampilan berefleksi ini perlu sejak kecil diberi ruang oleh orang dewasa di sekitar anak-anak. Orangtua, kakek nenek, kakak, paman, bibi, guru di sekolah, perlu senantiasa mengajak anak anak berefleksi. Tentu dengan cara anak, agar kita tak menjadi monster bagi mereka. Mengajak berdialog tentang peristiwa-peristiwa atau pengalaman sehari-hari. Setiap anak bertanya, berikan waktu untuk menjawab dengan dialog yang terbuka. Sejauh yang saya amati, belum banyak anak yang bertanya mengenai Tuhan, atau keberadaan Tuhan. Mereka banyak percaya saja bahwa Tuhan itu ada. Yang mereka banyak tanyakan adalah pengalaman keseharian yang kemudian akan menyangkut Tuhan juga. Di sini orang dewasa, orangtua, guru, berperan sebagai pandu bagi anak, untuk mengarahkan hati pada sikap dasar yang benar, yang menyukai kebaikan, kejujuran, belas kasih dan ingin menolong sesama yang membutuhkan, berani membela yang benar. Biarlah Tuhan menjadi bagian kesehariannya. Seperti dalam kutipan awal, tentang menemukan Tuhan. Tidak perlu jauh-jauh menemukan Tuhan. Justru kita yang perlu belajar menyadari Tuhan senantiasa hadir, dan merefleksikan makna dari setiap peristiwa.

Komentar