Seorang Mahasiswa Menggapai Belajar yang Berdayaguna
Refleksi Kuliah
Filsafat Ilmu pada Pertemuan Keduabelas
14 Desember 2017
Tulisan
ini akan menjadi pengingat bagi saya, akan apa yang semestinya dikerjakan oleh
pelajar pascasarjana untuk menyelesaikan sekolahnya. Tak hanya selesai begitu
saja, namun bagaimana belajar saya akan berdayaguna, dapat saya bagikan kepada
orang lain. Berikut saya tuliskan dahulu permenungan dan tips dari Pak
Marsigit:
Bodromoyo=
ketemunya Bodronoyo dan Ismoyo.
Kita
hendaknya paham bahwa ada struktur, kemanunggalan, kebaikan, ada yang ingin
dicapai. Setelah ketemunya Bodronoyo dan Ismoyo yaitu kesadaran diri kita
tentang apa yang kita kerja dalam waktu singkat, yaitu penulisan karya ilmiah
di jurnal terindeks Scopus. Anda sekarang S2 semester 1. Masih sangat relevan walau
mulainya sedikit terlambat. Sekarang supaya on the right track. Anda diprediksi
semester 4 akhir bisa lulus. Agustus 2019. Menghitungnya: hidup tidak linier
sintaknya. Sekarang search semua silabus, kurikulum 4 semester apa isinya. Mana
yang bisa engkau dahului. Yang sangat relevan, anda sendiri, diikuti lembaga.
Yang menulis thesis adalah Anda sendiri. Nggak ada yang bisa menuliskan kecuai
diri sendiri. Berdayakan diri anda dengan modal sudah menjadi mahasiswa S2.
Baru dan lama itu sama sama mahasiswa S2. Padahal di rentang yang sama dituntut
membuat karya ilmiah terindeks Scopus. Maka Anda juga harus diquartil. Q1 sem
1, Q4 sem 4. Dipastikan Q4 anda sudah mengirim. Maka semester ini juga harus
sudah menemukan judul thesis atas alternatif diri sendiri. Jangan menunggu. Akhir
semester 2 Anda harus sudah punya naskah yang bisa dikirim ke jurnal terindeks
Scopus. Bagaimana caranya silakan. Cuma, ada yang gengsi menerima tulisan dari
mahasiswa. Solusinya, kerjasama dengan dosen pembimbing.
Semester 2
coba bagaimana bisa menghasilkan artikel. Berbagai cara bisa dilakukan. Follow
up skripsi. Bisa penelitian pendahuluan untuk S2. Bisa bergabung dengan dosen
pembimbing. Karena di luar negri, journal itu S3. Australia begitu. Master
belum terpakai. Paradigmanya memenuhi syarat perlu dan cukupnya. Guru adalah
pendidik, siswa adalah subyek, belajar adalah membangun, semua sudah lewat.
Filsafat itu awalnya yang ada saja. Maka engkau mengada. Indikator mengada itu
kalo ada pengadanya. Adanya adalah mahasiswa. Sedang penelitian berarti sedang
mengada. Benar mengada itu jika engkau punya pengada. Kalau engkau punya
jurnal. Tarik ke pendidikan. Tingkatkan, manusia punya kompetensi membuat karya
ilmiah, mampu menunjukkan artikel yang dimuat di jurnal terindeks Scopus. Ini
paradigma, atmosfir. Siapa yang bisa ciptakan atmosfir? Orang yang berkuasa.
Bisa menentukan atmosfir. Ada paradigma yang lain? Ada. Dulu teacher is
isolated in the room, nggak mau dilihat, gengsi, malu. Naik menjadi guru
terbuka, lesson study. Syaratnya mau diobservasi. Naik tingkatannya, bisa pamer
untuk memperbaiki cara mengajar. Naik di atasnya teacher pay teacher, teacher
buy teacher. Engkau guru, kasih jurnal, jurnal dishare, dijual, dibeli guru
lain. Tidak cukup sekarang guru adalah pendidik. Sekarang teacher is a
researcher, director is a researcher, life is a research. Tapi hati hati… alam
tercipta tidak perlu Tuhan itu bahaya.
Engkau mahasiswa
S2 PEP adalah seorang researcher. Kalau engkau researcher, pulang nanti sudah
bisa jadi tulisan, kirim ke KR, majalah, di blog. Maka dunia sekarang, man is a
researcher, investor, driver is a researcher. Driver harus cari informasi mana
jalan yang cepat. Orang Jepang di Indonesia seminggu sudah bawa banyak data ke
jepang,karena mereka adalah researcher. Sintak itu nggak linear. Nanti kalo
sudah pulang, mandi, makan, istirahat, merenung, lalu mulai bergerak. Jangan
menunggu. Pelajari. Ke-s2-an anda disearch nasional dan internasional. Telusuri
segala web of… di internet. Web of jurnal, publisher, student, science, artikel,
seminar, akademik, riset, analisis data, statistic, metodologi, graduate
school, manajemen, dst… silakan dicari nanti malam. Pelajari sampai tuntas. Lalu
lewat seminar internasional. UPI dan Semarang sekarang melejit karena
menyelenggarakan seminar internasional. Artikel bisa lewat prosiding. Ada dua
macam, kita yang menyelenggarakan, atau ikut yang luar. Kalau kita, harus
berjubel. Kalau yang luar, matanya hijau. Kalau ada dari luar, serbu. Daripada
kita selenggarakan mahal mahal. Carilah yang serial international conference.
Kalau yang ketiga, publisher atau jurnal lebih tertarik. Sains, kimia, matematika,
kejar. Maka jangan menunggu semester 3. Sebab apa, sebab mereka itu naik turun.
Artikel
beda dengan prosiding. Kalau prosiding itu jangan terlalu tebal, 6-7 halaman.
Kalau terlalu tebal panitia kesulitan mengedit. Tulis yang penting saja.
Namanya saja pre, belum jurnal. Kedua, keterbacaan harus seratus persen. Bahasa
Inggris tidak boleh salah. English is a must. Suatu keniscayaan. Kedua,
referensi. Mengenai referensi, substansi, konten, kecil… sudah terbiasa baca Elegi
Pak Marsigit. Kalau baca artikel, mudah banget. Itulah maksud saya, anda saya
gembleng, berlatih sampai berdarah-darah, buat komen. Setelah itu pikiran
cerdas, baru apapun kita … itulah yang saya sampaikan. Itu pesan saya.
Perjalanan
panjang yang harus dilalui, banyak hal yang perlu dipelajari ini, hanya sedikit
sajalah waktunya. Saya hendak menceritakan bagaimana saya boleh berkesempatan
untuk belajar di PEP UNY.
Posisi saya dalam pekerjaan bukanlah
mudah. Mendampingi para guru agar mereka semakin berkembang, diri maupun
kualitas pengajaran dan kualitas muridnya. Pengetahuan yang minim belu
dibarengi dengan keaktifan belajar pada waktu itu. Kami kurang banyak belajar
baik secara mandiri maupun ke luar sekolah dan belajar dari banyak orang lain
yang sama-sama bergelut di bidang pendidikan.
Pada suatu kesempatan, ada sebuah
flyer mengenai International Conference di UNY. Saya entah mengapa, saat ini
merasa digerakkan oleh sesuatu yang sangat kuat dalam diri saya untuk mencoba
mendaftar sebagai presenter. Saya merasa punya modal yang dapat dibagikan
sesuai dengan tema konferensi itu. Yang pasti, sekolah punya prakteknya. Maka saya
mencoba dan abstrak saya diterima. Sempat bingung juga karena belum pernah
membayangkan akan menulis artikel ilmiah. Dari situ saya jadi banyak belajar. Data
sudah ada, tinggal mengolah, menuliskan, dan mempelajari literatur pendukung. Akhirnya
artikel itu jadi dan saya kirimkan. Di dalam konferensi itu, saya juga banyak
belajar dari peneliti lain mengenai apa yang mereka kembangkan untuk
pendidikan. Saya membagikan sebuah praktek religiusitas sederhana di sekolah
dasar. Namun ternyata hal ini menarik beberapa peserta lain. saya sendiri dan
teman saya waktu itu, menjadi lebih percaya diri dengan apa yang kami bagikan. Sungguh,
suatu kesempatan berbagi.
Mungkin yayasan tempat saya bekerja
kemudian melihat bahwa ada potensi yang dapat dikembangkan melalui situasi ini.
Saya kemudian diminta untuk sekolah dan mendalami tentang penelitian dan
evaluasi pendidikan. Hal yang ke depan akan sangat bermanfaat bagi sekolah, dan
pendidikan secara lebih luas. Saya senang dapat belajar lagi, dan teman-teman
lain juga kemudian mendapat kesempatan secara bergiliran, untuk berbagi hasil
penelitian kecil mereka di konferensi baik nasional maupun internasional. Ada banyak
berkat dan pembelajaran yang diperoleh dari peristiwa kecil berbagi ini. Kami merasa
lebih percaya diri sebagai guru. Ada sesuatu yang dapat kami lakukan, bahkan
kami bagikan untuk rekan lain. inilah menjadi pengada ada. Berdaya guna. Inilah
awal dari teacher is a researcher. Life is a research.
Ada berbagai hal yang menarik untuk
diteliti dan dipelajari di sekolah. Mari dukung guru. Self efficacy bukan hanya
untuk siswa saja. Justru self efficacy sangat penting dimiliki oleh guru. Mari dukung
guru. Guru perlu berkembang, dan mari bersama-sama mewujudkan hal tersebut. Sendirian
tiadalah kita berarti. Bersama orang lain kita dapat menunjukkan eksistensi,
saling berbagi, mengembangkan, belajar, membantu. Dampaknya kelak adalah pada
anak-anak kita, murid, dan masa depan bangsa.
Komentar
Posting Komentar