Membangun Filsafat
Refleksi
kuliah filsafat ilmu pada pertemuan pertama
Membangun
Filsafat
Saya hendak
memulai tulisan ini dengan apa yang ditulis oleh Montessori. Montessori adalah
seorang dokter yang menggeluti dunia pendidikan anak-anak, melakukan risetnya
mengenai pendidikan anak sejak usia 26 tahun sampai seluruh sisa hidupnya.
Dalam
bukunya ‘Children of the Universe’, Montessori menawarkan ‘Cosmic Education”. Tujuan
‘Cosmic Education’ ini adalah membimbing anak-anak untuk menjawab pertanyaan
‘Who am I?’. pertanyaan yang sangat sederhana namun sebenarnya adalah
pertanyaan yang sangat mendalam, mencakup diri sendiri sekaligus alam dan
kehidupan. Novel ‘Dunia Sophie’, sebuah novel filsafat, juga menyajikan
pertanyaan pertama mengenai filsafat yang serupa, ‘Siapakah kamu?’.
Ketika
hendak masuk ke dalam filsafat, ada banyak hal berkecamuk dalam pikiran. Banyak
orang mengatakan, filsafat itu sulit. Berbicara mengenai filsafat seringkali
membingungkan. Atau pertanyaan yang membingungkan bisa jadi adalah pertanyaan
filsafat yang serius. Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, yang bila dicari
jawabnya, akan membawa kita pada bangunan filsafat kita. Yang memang semestinya
kita sendiri yang membangunnya. Tak dapatlah kita memahami apa yang tidak kita
rasakan dan pikirkan sendiri.
Filsafat
membawa kita pada pencarian siapakah kita ini, filsafat membantu kita menemukan
identitas diri, dan apa tujuan hidup kita sendiri. Seorang anak masih perlu
dibimbing untuk mengenal siapa dirinya, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk
bereksplorasi akan dunia dan alam di
sekitarnya. Identitas diri ini akan membantu mereka untuk mengetahui orientasi
dirinya. Dalam istilah filsafat, memiliki landasan dalam hidup. Landasan yang
tertinggi disebutkan adalah landasan spiritual. Saya menyebutnya sebagai
religiusitas, sebagai dasar dari sikap hati yang benar, baik, suka akan
keindahan, kagum akan segala keindahan dan keagungan ciptaan Tuhan. Landasan
yang dipegang teguh akan selalu membuat kita kokoh, tak mudah terombang-ambing
ataupun hilang terbawa angin, seperti sebuah layang-layang yang bisa hilang
ketika tertiup angin karena talinya tak cukup kuat menahan.
Guruku adalah
rasa ingin tahuku
Tiadalah
ilmu jika tak ada pertanyaan. Bertanya adalah ungkapan rasa ingin tahu.
Keingintahuan membuat seseorang bereksplorasi, mencari jawab untuk memenuhi
rasa ingin tahunya. Bertanya berarti kondisi pikiran sedang kacau, tidak mengerti,
tidak paham. Kekacauan inilah yang mendorong seseorang untuk mencari
keseimbangan, mendamaikan kembali pikiran kacau ini. Hasil eskplorasi menemukan
jawab, maka terbentuklah suatu pemahaman, suatu pengetahuan baru. Proses ini
adalah siklus terus menerus selama seseorang berpikir dan terus belajar.
Proses ini
sangat nampak pada anak-anak. Anak-anak itu sedemikian mudah merasa kagum
terhadap berbagai hal. Lihatlah mereka yang berlarian, tak bisa duduk jenak,
selalu ada yang membuat mereka tertarik dan bertanya. Perhatikan
pertanyaan-pertanyaan mereka. Tak puas puas mendengar jawaban. Bertanya,
dijawab, bertanya lagi, dijawab lagi, terus.. terus… sampai terpuaskan
sementara rasa ingin tahunya. Pertanyaan mereka berbuah pertanyaan lain. Suatu
saat bisa jadi pertanyaan yang sama akan diajukan lagi, karena merasa jawaban
terdahulunya sudah tak cukup lagi, dia butuh untuk tahu lebih dalam. Rasa ingin
tahu inilah yang merupakan mahaguru dalam diri si anak (YB Mangunwijaya).
Maka, oleh
karena di dalam diri si anak itu sudah ada mahaguru, tugas guru di sekolah,
dosen di universitas, adalah menjadi fasilitator saja, agar anak menemukan
pengetahuan-pengetahuan itu. Membangun pengetahuan mereka, membangun filsafat
mereka. Dengan demikian pengetahuan akan sungguh bermakna bagi mereka.
Kembali pada
landasan belajar, maka diperlukan landasan spiritual, yang saya sebut sebagai
religiusitas. Sebab rasa ingin tahu jika tidak punya landasan spiritual, akan
menjadi berbahaya. Dunia ini dapat membawa pengetahuan kepada banyak kebaikan,
namun tidak sedikit pula pengetahuan yang dimanfaatkan untuk kejahatan.
Komentar
Posting Komentar