Pelajaran Bertanya
Refleksi Kuliah Filsafat
Ilmu pada Pertemuan Kelima
25 Oktober 2017
Dalam
perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kelima ini, kami mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dan Pak Marsigit menjawab pertanyaan kami. Hal ini
menarik saya untuk hendak berefleksi mengenai bertanya itu sendiri, lebih pada
dinamika bertanyanya, bukan pada pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya.
Selama
mengajar di SD Mangunan, saya bergulat juga dengan sebuah pelajaran khas yang
bernama Kotak Pertanyaan. Di sana para siswa berhak bertanya apa saja,
menuliskannya dalam secarik kertas, dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak.
Satu hari yang disepakati dalam satu minggu, guru dan anak-anak akan membuka
kotak tersebut. Lalu pertanyaan-pertanyaan dijawab. Biasanya guru akan sudah
membuka kotak itu sehari sebelum dibuka di kelas, agar dapat mempersiapkan
jawabannya. Ada pertanyaan yang dapat dijawab langsung, ada pertanyaan yang
perlu dijawab dengan mencari referensi dari buku atau video, ada
pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dengan percobaan, terkadang ada pula
pertanyaan yang hanya dapat dijawab untuk pribadi anak sendiri, tidak secara
bersama di dalam kelas. Misalnya pernah suatu ketika seorang anak jalanan yang
duduk di kelas 3 SD bertanya mengenai ‘free sex’ yang dia lihat dalam
lingkungan jalanan. Tentu hal ini hanya dapat dijawab personal karena teman-temannya
belum berpikir sampai ke sana.
Seorang
dosen lain, ketika mengetahui adanya pelajaran bertanya ini, kemudian tertarik.
Dia mengatakan, betapa sulitnya dia meminta para mahasiswa untuk bertanya. Apa
sebabnya? Sementara di sini anak-anak antusias untuk bertanya. Memanglah, yang
mereka tanyakan adalah hal-hal yang menarik perhatian mereka. Rata-rata mereka
akan bertanya mengenai fenomena alam yang mereka indrai dalam keseharian
mereka.
Masuk
dalam perkuliah filsafat ilmu ini, saya seperti mendapati ibu dari pelajaran
bertanya di sekolah tempat saya mengajar. Sebab filsafat itu adalah bertanya.
Ilmu akan berkembang dari bertanya, dari rasa kagum dan keheranan yang muncul
dari lubuk hati. Maka pencarian akan jawaban itu juga akan memunculkan berbagai
pertanyaan-pertanyaan baru.
Dalam
perkuliahan filsafat, rasanya semua menjadi terbuka. Ilmu seakan-akan tak
pernah habis, sebab setiap logos juga akan sesuai pada ruang dan waktunya.
Ruang dan waktu itu sendiri pun tidak akan habis kecuali ruang dan waktu
terhenti (kiamat). Sedemikian pentingnya bertanya, karena sedemikian luasnya
obyek filsafat itu. Kita dapat belajar mulai dari mana pun, sebab mulai dari
mana pun kita belajar, kekacauan pikir tetaplah terjadi. Kekacauan pikiran ini
menjadi awal dari belajar. Kacau, maka bertanya, dan ingin mencari jawaban.
Menemukan jawaban ataupun tidak menemukan jawaban akan menimbulkan pertanyaan
baru lagi, kacau lagi, dan seterusnya. Selalu ingin tahu apa yang ada di balik
segala sesuatu.
Saat
kuliah filsafat, selalu ada yang bertanya, dan selalu harus bertanya. Mungkin
awalnya karena terpaksa bertanya, namun lama kelamaan, menjadi banyak yang
ingin diketahui sehingga bertanyalah tanpa harus merasa terpaksa bertanya. Kadang
saya merasakan ada pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya mirip, jawabannya
pun terkait. Namun hal itu bukan menjadi hal yang membosankan, melainkan hal yang
semakin menguatkan pemahaman. Terkadang sulit dipahami, ketika ada lagi yang
bertanya, barulah mulai jelas.
Hal
yang terpenting di sini adalah ikhlas. Ikhlas dalam hati, dan ikhlas dalam
pikir. Sebab jika tiada keikhlasan, segalanya akan sia-sia saja. Tidak ada
sesuatu yang memunculkan rasa heran atau kagum sehingga ingin tahu dan
bertanya, mencari. Maka tak ada pula ilmu yang akan diperoleh.
Sedemikian
pentingnya bertanya, dan pelajaran bertanya ini. Benarlah, sejak kecil
anak-anak perlu didukung untuk berani dan mau bertanya. Mereka perlu belajar
untuk bertanya. Mulai dari bertanya apa saja, sampai juga bertanya dengan sopan
santun, mengerti etis dan estetika dalam bertanya. Bertanya sesuai ruang dan
waktu.
Komentar
Posting Komentar