Belajar Sepanjang Hayat

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Ketigabelas
20 Desember 2017

Perkuliahan filsafat ilmu pertemuan terakhir ini membawa pada sebuah pesan, bahwa menuntut ilmu itu tidak pernah berhenti. Dalam beberapa pertemuan sebelumnya, pemikiran tentang life is a research, teacher is a researcher, telah berkali-kali diungkapkan. Jika hidup ini adalah sebuah riset, maka hidup adalah sebuah riset yang panjang. Riset itu mensyarakatkan keadaan belajar. Maka belajar itu sepanjang hayat tanpa berhenti juga. Sesederhana apa pun, pastilah dalam keseharianpun kita bertanya dan melakukan pengamatan. Dalam batas-batas kebimbangan, kekacauan pikiran, kita akan memperoleh hal baru, ilmu baru, sesuatu yang baru dan berarti untuk hidup kita selanjutnya.

Riset hidup saya, belajar saya, juga sudah berlangsung sepanjang hidup. Sejak saya berada dalam kandungan, saya telah belajar mendengar ibu, ketika lahir saya menangis sebab saya belajar menggunakan paru-paru saya untuk bernafas, setelah itu saya belajar bertahan hidup. Merespon, makan, minum, menyentuh, bereksplorasi, berjalan, berbicara, membaca, menulis, berhitung, memanjat, berteman, bertengkar, menyelesaikan konflik, segala hal yang membentuk saya hingga saat ini.

Karena hidup ini adalah riset, maka refleksi adalah hasil dari riset-riset dalam hidup itu. Ketika saya membuat dan melakukan refleksi, saya menemukan simpul-simpul dalam kehidupan saya, yang kemudian menjadi tonggak penting untuk kehidupan saya selanjutnya.

Sebagai guru, inilah yang hendaknya saya bagikan kepada murid-murid saya. Mengenali dirinya sebagai pribadi dan sebagai pribadi di tengah masyarakat dunia, memahami dirinya sampai pada memiliki orientasi diri yang kuat. Jika anak telah memiliki orientasi diri yang kuat, maka takkan mudah ia tergoyahkan dalam situasi berat sekalipun. Terus berjuang sebab dia teguh pada cita-citanya. Mandiri, bertanggung jawab, menghargai alam dan orang lain, menyadari keterbatasannya di hadapan Sang Maha Kuasa. Dasarnya adalah kemauan dan kemampuan belajar. Sepanjang hayat adalah belajar. Terus menyesuaikan diri dengan perubahan. Masuk ke dalam disruption, namun bukan untuk mencadi kacau, melainkan untuk melihat posisi diri dengan lebih jernih. Senantiasa tahu posisi, tahu bagaimana menempatkan dirinya, ruang dan waktunya dalam situasi yang demikian cepat berubah. Senantiasa terbuka dan dapat melihat berbagai persoalan dari berbagai sudut pandang.


Cogito ergo sum. Kita berpikir maka kita hidup. Kita belajar, maka kita berpikir, Teruslah belajar, sebab dengan belajar kita hidup. Belajar itu sepanjang hayat.

Komentar