Di Luar Pikiran
Refleksi
Kuliah Filsafat Ilmu Pada Pertemuan Ketujuh
8
November 2017
Kali ini saya ingin
menuliskan refleksi terkait dengan kisah Pak Marsigit tentang peristiwa masa
mudanya tentang sesuatu di luar pikirannya. Begini cuplikan kisahnya:
Jangan
dikira kita hanya berpikir. Ada sesuatu yang di luar pikiran kita. Yang merah
waktu kecil itu tidak tahu sampai sekarang. (penjelasan dari penggalan lain
kisah dalam kuliah kali ini: Ketika itu malam Jumat Kliwon tidur di lantai,
belum ada listrik. Radio nyala nyetel wayang. Ada benda seperti lampion dua
kali bola basket menyala ke dalam. Menurut orang Jawa itu penyakit. Setelah itu
sakit tiga minggu.) Ternyata 5 tahun kemudian adik perempuan lihat juga tapi di
atas pohon kelapa. Tetangga juga pernah lihat lampor. Lampor itu membuatkan
pemandangan indah, jalan aspal. Padahal sawah, tebing.
Aku
diberi warning Tuhan. Meruntuhkan pikiran saya. Aku tidak mampu memikirkan.
Benda merah tadi. Aku tidur di rumah, pintu dibuka orang, ternyata gak ada
orangnya. Orang takut di rumah saya. Orang datang minta kasih lampu semua.
Seminggu lalu, dulu ada tukang ikut saya. Aku peluk, karena sakit. Aku kalo di
situ ke lantai empat merinding. Malah aku duduk di situ. Sambil doa, sendiri.
Beres. Pasrahkan pada Allah. Allah kalau menolong itu likelihood. Sekitar ikut juga.
Maka doa bersama itu penting, menciptakan medan magnet doa.
Saya pribadi
tidak atau belum pernah mengalami hal-hal yang di luar pikiran semacam kisah di
atas. Namun, berkali-kali saya mengalami kejadian di luar pikiran mengenai
pengalaman keseharian, yang seakan sudah diatur untuk terjadi demikian.
Kejadian yang terbaru adalah kisah seorang teman di kelas yang ayahnya
meninggal. Si teman ini pulang ke kosnya setelah kuliah dan tidur. Mati lampu,
hp mati juga karena tidak ada listrik. Saat itulah ayahnya meninggal. Berita
kemudian didapat oleh seorang teman kuliahnya, yang kemudian memberitahu
beberapa yang lain dan segeralah mereka ke kos si teman yang ayahnya meninggal.
Ternyata dia belum mendengar kabar tersebut. Kebetulan teman-temannya ini
membawa motor, jadi langsung mengantarnya menuju bandara. Perjalanan menuju
bandara ini masih dalam ketidak pastian, apakah dapat tiket, sebab e-ticketnya
belum terkirim (seorang kerabat telah membooking tiket pesawat untuk sore itu).
Pada saat yang kritis, e-tiket masuk dan segeralah check in dan akhirnya
berangkat.
Saya pernah
dua kali kecopetan dan saya seperti punya perasaan bahwa saya akan kecopetan. Pertama,
ketika naik bis, saya merasa akan kecopetan di kantong jaket saya. Lalu saya meletakkan uang empat ribu
rupiah di situ. Dan benar, uang itu tidak ada. Sekali lagi di kapal, saya
merasa seperti uang yang saya bawa akan hilang. Padahal ada di dalam tas. Dan tanpa
saya sadari kapan hilangnya, uang itu kemudian memang tidak ada.
Seorang teman
berkisah, suatu ketika dia dalam keadaan terpuruk, depresi dan hampir menyerah.
Dalam kondisi demikian dia ‘ngluyur’ naik bis. Di situ dia bertemu seorang
bapak penjual tikar pandan yang mengatakan sudah tujuh belas tahun membuat dan
menjual tikar pandan. Si bapak bercerita bahwa tidak ada hal lain yang dapat
dilakukannya, hanya itu ketrampilan dan modal yang dimilikinya. Teman saya
kemudian juga tergugah, seperti ditampar dengan cerita sang bapak penjual tikar
pandan ini. Kehidupannya secara material juga lebih mapan dari si bapak, hanya
karena situasi hidup yang sedang kurang nyaman dia hendak menyerah. Sementara si
bapak ini berada dalam situasi yang stagnan selama tujuhbelas tahun dan bertahan.
Teman saya ini berefleksi, tentang luar biasanya Tuhan. Pengalaman sang bapak
selama tujuhbelas tahun itu digunakan Tuhan untuk menegur dia dalam sebuah
perjumpaan singkat di bis kota.
Demikianlah,
ada hal hal yang di luar pikiran kemudian terjadi. Dari pengalaman-pengalaman
ini, rasanya hidup seperti wayang di tangan dalang. Wayang itu sendiri sudah
punya karakter masing-masing, lakon masing – masing, yang dimainkan dalang
sesuai dengan ceritanya. Namun kapan kita masuk ke arena, kapan keluar, dimana
kita diletakkan, semua tergantung sang dalang. Dalang pun menghormati setiap
tokoh. Tak mungkin ia memainkan tokoh
Arjuna bertukar posisi dengan panakawan, dan lain sebagainya. Sang
dalang tetap memegang etik estetika, menghormati karakter setiap tokohnya. Maka
urusan hati kita adalah keputusan kita, sementara jalan hidup kita ini
terkadang terasa seperti telah diatur sedemikian oleh Ia yang ada di luar
pikiran kita, sesuai dengan pilihan-pilihan, keputusan, sikap hati kita selama
ini.
Komentar
Posting Komentar