Centang Perenang Pendidikan Indonesia

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu pada Pertemuan Kesepuluh
29 November 2017

Saya hendak memfokuskan diri pada persoalan pendidikan Indonesia yang berada di perbatasan, di samping ada berbagai persoalan pendidikan yang masih menjadi PR di Indonesia. Begini bagian dari diskusi filsafat pertemuan kesepuluh yang menjadi titik tolak refleksi saya:
Ini jelasnya yang sudah pernah diterangkan, Auguste Compte, meletakkan spiritual di bawah.


 (https://www.academia.edu/33127016/INOVASI_PENDIDIKAN_DITENGAN_TANTANGAN_GLOBAL)
Sementara Indonesia strukturnya seperti ini:


 (https://www.academia.edu/33127016/INOVASI_PENDIDIKAN_DITENGAN_TANTANGAN_GLOBAL)

Waktu Indonesia berdiri sebenarnya kena pengaruh itu tapi belum menyadari. Sekarang tidak mampu menanggulangi. Maka sekarang menjelma jadi dunia kontemporer. Bagaimana caranya? Watak Indonesia ambil yang baik tinggalkan yang buruk. Dari dulu Indonesia itu selalu di tengah. Di perbatasan itu sebenarnya ilmu kalau kita mampu. Gambarnya centang perenang karena kita sebenarnya mengalami diorientasi.


 (https://www.academia.edu/33127016/INOVASI_PENDIDIKAN_DITENGAN_TANTANGAN_GLOBAL)

Peta pendidikan dunia dari Paul Ernest. Ibarat dari google earth, mau ambil gambar apa tinggal kasih indikatornya apa. Kecenderungan dunia itu pendidikan kapitalis, sosialisme, saintisim. Ini cita cita Indonesia. Indonesia apa ideologinya? Demokrasi. Kenyataannya ntar dulu, apa iya? Jangan jangan demokrasi transaksi, berdasarkan uang? Jadi Indonesia yang sekarang yang ada, menjadi kenyataan, Indonesia di bumi, Indonesia di langit. Di bumi yang kita alami. Moralnya kebajikan di ontologi. tapi kenyataannya sedang krisis multidimensi. Sebenarnya ada yang diutopiakan. Disiplin ilmu itu term untuk tradisional, sejak jaman Belanda. Kepentingan ortu, pemimpin, industri, dsb. Pendidikan kita sebetulnya kepentingan orang dewasa atau anak? Kita definisikan ilmu di Indonesia sebagai apa? Sebagai disiplin. Tapi pada anak ilmu adalah kegiatan atau interaksi. Maka teori mengajar juga begitu.





Peran guru sebagai fasilitator, mewujudkan pendidikan demokratis. Sehatnya hidup anda seribu komponen. Mulai dari telinga, mata, hati, dsb. Kalau untuk pendidikan orang dewasa, kedudukan siswa yang empat kolom ini ambisi Negara. Siswa seperti empty vessel yang siap diberi apa saja. Harusnya siswa sebagai actor. Tapi mana tahan. Ternyata Indonesia masih menerapkan siswa sebagai empty vessel. Apalagi sistem yang biasa dengan project. Kalau mau orientasi pada rakyat, nanti dulu. Orientasi pada kepentingan korporasi. Rakyat hanya jadi objek penderita. Anda PEP, mau evaluasi apa. Kalau hanya dari eksternal, anda tidak menyadari jurusan dan diri anda bahwa telah memperkokoh akar ambisi orangtua untuk menghabisi anak muda. Yang jadi persoalan dalam filsafat ini adalah refleksi. Seberapa jauh anda menyadarinya. Kalau mau inovasi, penilaian berbasis kelas, portofolio, autentik asesmen, proses. Yang menilai kamu, orang lain nggak ngerti apa. Tersimpan dengan baik catatanmu. Kumpulan komen saya sudah setengah juta, tersimpan dengan baik. portofolio itu track record bagi dirimu. Di bidang filsafat ini sadarlah, ketika mengerjakan sesuatu ada cadangan, ada alternatif pemikiran di tempat yang lain.

Jika mengamati tabel tabel di atas, mengenai pendidikan demokrasi yang semestinya hadir di Indonesia, dengan kenyataannya, masih sungguh seperti langit dan bumi, idealismenya bagus namun belum sampai pada kenyataannya. Langit dan buminya belum bertemu. Masih begitu banyak PR Negara ini untuk pendidikannya. Saya sendiri masih bergulat dengan berbagai hal yang carut marut mengenai pendidikan ini. Saya mengalami mulai sejak jadi guru, dan juga sekarang ini mendampingi guru dalam mengajar, ada berbagai hal yang perlu dibenahi.
Masih belum banyak guru yang ‘sejati’ dapat ditemui. Dampaknya adalah pada anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun di dalam proses menuju dampak itu, ada banyak hal yang harus sungguh dipersiapkan dengan baik. banyak penelitian tentang metode mengajar. Cukupkah itu? Metode mengajar yang baik datang dari guru yang kreatif. Maka guru adalah agen perubahan besar. Dalam belajar, siswa perlu mendapat teladan yang baik. darimana teladan yang baik? Dari para gurunya di sekolah, dari suasana nyaman yang dihadirkan, dari proses membangun pengetahuan yang benar dari dalam dirinya.

Maka demikianlah, guru harus mendapat perhatian besar dalam kerangka pendidikan Indonesia. Siapa yang bertugas mendampingi guru di sekolah. Cukupkah hanya kepala sekolah saja? Cukupkah lembaga pendidikan para calon guru itu mempersiapkan mereka untuk menjadi guru yang matang kepribadiannya dan siap menjadi fasilitator bagi anak-anak? Sudahkah karakter guru kuat, sudahkan guru memiliki oientasi diri yang kuat, sehingga mereka dapat menjadi sumber inspirasi karakter dan orientasi diri bagi siswanya? Masih ada berbagai gap disini. Sudah banyak penelitian tentang siswa, metode mengajar, metode belajar, kurikulum, manajemen kelas. Mari mencari lebih dalam, akar dari semua itu. Mari mulai menemani guru, untuk menjadi agen perubahan. Mari menuju cita-cita pendidikan demokrasi.

Komentar