Belajar Filsafat dari Nol
Refleksi
kuliah filsafat ilmu pada pertemuan kedua
Belajar
Filsafat dari Nol
Sesuatu yang
tidak saya mengerti. Hari ini kuliah dimulai dengan pertanyaan jawab singkat,
pertanyaan sederhana dengan jawaban sederhana yang tak mampu saya jawab. Nilai
nol untuk tes jawab singkat hari ini. Perasaan saya, biasa saja. Namun ada yang
menarik dari keberhasilan Pak Marsigit melakukan nolisasi di kelas hari ini,
yaitu belajar filsafat yang baik dari nol. Saya merefleksikannya, berkaitan
dengan tulisan berikutnya tentang epoche.
Semakin banyak
membaca, semakin banyak rasanya yang tidak saya ketahui. Saya merasa ingin baca
dan baca yang lain. Sayangnya, membaca tak selalu membuat saya semakin
mengerti, apalagi paham. Seringkali justru menjadi bingung, karena belum tahu
koneksi tulisan-tulisan itu antara satu dengan yang lain. Belum bertemu maksud
suatu tulisan, sudah bertambah bingung lagi dengan tulisan yang lain. Yang terjadi,
tak tahu hendak komentar apa. Ada kalanya juga membaca dan menemukan ada yang
berkaitan, atau suatu bacaan menjawab pertanyaan yang lalu.
Pengalaman
ini sungguh menarik, sebab mulai dari nol inilah, terbuka segala kesempatan untuk
banyak hal. Pertanyaan reflektif, siapkah saya untuk terbuka?
Epoche
Saya penasaran
dengan istilah yang bagi saya baru ini. Apa itu epoche. Menurut definisi dari
Wikipedia, epoche adalah salah satu prinsip netral dalam penelitian fenomena
keagamaan dengan cara menangguhkan terlebih dahulu persepsi awal, penilaian normative
agama dan sudut pandang peneliti sebagai pemeluk agama, guna memperoleh hasil
penelitian yang obyektif. Secara etimologi, epoche berasal dari bahasa Yunani
yang berarti pembatalan, pengurungan (bracketing), dalam konteks ini diartikan
sebagai penangguhan keputusan. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Epoch%C3%A9
Rabu, 18 Oktober 2017 pukul 8.57 AM)
Saya juga
membaca jurnal berjudul ‘The Applicability of Phenomenology in the Study of
Religion’ (Kasomo, Daniel, 2012). Di situ ada sub diskusi mengenai epoche. Dituliskan
bahwa ketika berbicara tentang agama, seorang peneliti sebagai pemeluk suatu
agama harus mengesampingkan terlebih dahulu segala pengetahuannya agar dapat
berlaku obyektif.
Tentu tak
semudah itu melakukannya, sebab di Indonesia setidaknya, masih banyak orang
yang saya jumpai, sungguh menjadikan agama sebagai dasar dari setiap
tindakannya. Terkait dengan hal ini, saya merefleksikannya secara lebih umum. Pak
Marsigit dalam kuliah Filsafat menyampaikan bahwa epoche itu gudang, tempat
penyimpanan, letaknya di belakang kita, sesuatu yang tidak dapat kita lihat. Seringkali,
baik disadari maupun tak disadari, seseorang memperlakukan orang lain dengan
gambaran yang sudah diperoleh sebelumnya.
Dalam pengalaman
sebagai seorang guru, epoche alias gudang ini sangatlah penting. Seorang guru
perlu berpikir jernih, dengan hati yang jernih, ketika berhadapan dengan setiap
muridnya. Informasi-informasi awal mengenai latar belakang murid itu penting
diketahui, namun sebaiknya ‘digudangkan’ saat bersama dengan mereka. Mengapa? Agar
guru mengalami proses mengenal anak dengan lebih netral, dan akan lebih banya
informasi yang diperoleh guru dengan cara itu. Ada potensi potensi anak yang
semula tak diketahui, justru akan muncul dan terbuka.
Contoh kasus,
seorang anak yang di satu sekolah dianggap tidak pernah memperhatikan guru, pindah
ke sekolah lain. Di sekolah yang baru, guru kelas sudah diberitahu oleh orangtua
si anak mengenai latar belakang mengapa si anak pindah. Anaknya dianggap suka
melamun dan tidak memperhatikan guru. Orangtua sendiri juga tidak tahu apa
penyebabnya. Mulailah si anak berproses di sekolah yang baru tersebut. Guru yang
meng’gudang’kan informasi dari si orangtua, mulai mengamati si murid baru. Seperti
tidak ada keanehan dalam dirinya. Pun dalam bergaul, dia bisa mudah
menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Selang beberapa waktu, muncul saat
saat di mana si murid baru nampak melamun dan melakukan aktivitas yang berbeda
dengan temannya. Dia menulis sesuatu. Guru mengamati, rupanya yang ditulis
adalah puisi. Rupanya anak ini suka menulis puisi. Guru menemukan bakat anak,
yaitu bakat dalam bidang bahasa. Kali ini dia menulis puisi. Dia menulis ketika
pelajaran di kelas terasa kurang menarik baginya.
Mangunwijaya
dalam Pendidikan Pemerdekaan mengungkapkan hal yang serupa. Guru hendaknya
tidak memberi ‘cap’ apapun pada anak, entah itu nakal, atau malas, atau pembuat
masalah, dll. Rupanya fungsi ini seperti epoche dalam filsafat. Segala cap itu
harus di’gudang’kan, untuk dapat memekarkan potensi anak secara optimal. Kembali
pada permenungan kuliah pertama, si anak sudah memiliki mahaguru dalam dirinya,
rasa kagum dan bertanya yang memunculkan daya eksplorasi, dan guru hanyalah
fasilitator saja, yang membantu anak menemukan pengetahuannya. Membangun pengetahuannya.
Pengalaman ini menyatakan pada saya dengan
jelas, ternyata filsafat itu memang dekat dengan kehidupan sehari hari. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar