Suatu Hari Minggu di Bilik Literasi


Pada hari Minggu, 18 Mei 2014, aku ‘dolan’ ke bilik literasi bersama suami dan kedua anakku. Sebenarnya ingin sekali aku terlibat dalam kegiatan tiga hari sinau pendidikan mereka, yang dimulai hari Jumat tanggal 19 Mei lalu. Suasana menjelang Ujian Sekolah membuatku tertahan dan tak dapat mengikutinya. Maka aku berangkat hari Minggu untuk membayar rasa penasaran dan keingin tahuanku.

Penyambutan yang sangat manis. Kami dijemput dari Bilik Literasi oleh dua orang. Mas Priyadi, seorang pendongeng, dan Mas Tain, seorang esaist. Setiba di sana, sekitar lima belas orang sedang berdiskusi. Mas Kabut (Bandung Mawardi) keluar dan menyambut. Sambutan yang hangat disertai makan siang karena saat kami datang hampir tiba waktu makan siang.

Mereka, para pembelajar itu, duduk melingkar, lesehan di atas karpet. Pembicaraan terjadi sambung menyambung. Menakjubkan. Pembicaraan diakhiri. Makan siang menjadi agenda selanjutnya. Seusai makan, aku mencoba bergabung dan berbicara dengan beberapa orang penulis. Diyo, seorang guru (dia tak mau disebut tentor) di sebuah lembaga bahasa Inggris. Ada lagi guru Bahasa Indonesia di SMK Klaten, dan 2 orang mahasiswa lain yang ternyata terkejut mengetahui aku dari SD Kanisius Mangunan. Mereka adalah pengagum pengagum Mangunwijaya dan sangat tertarik untuk mengenal lebih jauh. Sebuah pembicaraan yang indah, mengenai hakekat guru, ujian nasional, bimbel dan tryout. Diyo berkisah pula tentang kesejahteraan tentor bimbel yang sangat minim, dan bagaimana ‘uang’ menjadi ikatan mutualisme antara bimbel dan (kepala) sekolah. Mengenaskan. Pendidikan telah menjadi sector kapitalis. Bagaimana kita ingin membentuk bangsa Indonesia yang berbudi dan bersusila, saling menghormati, tenggang rasa, hormat kepada mereka yang lebih tua?

Lepas dari pembicaraan ini, aku terenyuh betul. Inilah rupanya yang dahulu disebut padepokan, perguruan… murid datang mencari guru, belajar, memuaskan rasa ingin tahunya. Murid datang karena keinginannya sendiri. Bukanlah seperti yang terjadi di sekolah-sekolah saat ini. Pada usia tertentu, anak-anak hampir tak punya pilihan lain kecuali ‘bersekolah’. Sekolah tak lagi identik dengan hakekatnya sebagai tempat belajar yang sejati. Sekolah adalah bentuk kapitalisme lain, dan murid adalah obyek obyek kapitalisme seragam, kurikulum, buku, kepentingan bimbel, ujian nasional tak berarah… mau dibawa kemanakah pendidikan bangsa ini…?










Komentar