Impian untuk Anakku
Jaman Edan
Saya
merasakan jaman ini seperti jaman edan. Mengapa tidak? Dunia yang sederhana
menjadi serba rumit. Dunia yang penuh dengan kekayaan untuk semua makhluk yang
tinggal di atasnya, dieksploitasi untuk keuntungan segelintir orang saja. Orang
tidak lagi berlomba menanam bahan pangan untuk kelangsungan hidup, tetapi orang
berlomba untuk menanam uang. Dunia menjadi sedemikian kompetitif, dikuasai oleh
industri dan kapitalisme yang membuat manusia menjadi konsumtif dan tidak lagi
produktif. Orang berlomba memenuhi kebutuhan tersier mereka, dan bukan hidup
yang sederhana. Perkembangan teknologi dan informasi sedemikian cepat, dengan
dalih mempermudah manusia dalam beraktifitas, namun sesungguhnya orang telah
terjebak menjadi budak teknologi. Mulai dari sekedar yang biar keren punya
gadget terbaru, sampai yang terpaksa tertatih-tatih membeli gadget tertentu karena
tuntutan pekerjaan meski harus utang sana sini untuk memilikinya.
Menjadi
orangtua jaman sekarang bukan hal gampang. Semua serba cepat, pekerjaan
menuntut profesionalitas, anak-anak banyak yang terpaksa harus dititipkan di
sana sini karena orangtua bekerja. Orang tak lagi punya cukup kesempatan untuk
hening dan berefleksi tentang dirinya. Parahnya, banyak pasangan muda yang juga
belum siap menjadi orangtua. Anak-anak mengalami loncatan kebudayaan yang
sedemikian besar, dan bangsa Indonesia belum siap untuk mendidik anak mereka
menggunakan teknologi sebagai alat bantu secara bijak, dan bukan menjadi budak
teknologi itu.
Dan
pendidikan dasar telah tercerabut dari akarnya. Orang mencari sekolah dasar
yang menurut mereka akan baik bagi masa depan anaknya, dan membayar mahal untuk
itu, namun lepas dari konteks lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Artinya,
belum semua tempat yang menyelenggarakan pendidikan dasar mempunyai misi yang
esensial terhadap perannya sebagai sarana mengembangkan anak menjadi pribadi
yang utuh.
Impian untuk
anakku
Ketika
sampai pada masanya anak saya masuk sekolah, seperti kebanyakan orangtua lain,
saya mencari sekolah-sekolah terdekat, mana yang sekiranya baik untuk anak
saya. Pikiran saya sederhana saja, memberinya komunitas untuk berbagi, belajar
memahami perbedaan, belajar berkonflik dan menyelesaikan masalah, belajar untuk
menjadi pribadi yang otonom dan percaya diri di tengah teman-temannya. Menjadi
senang terhadap berbagai hal, menumbuhkan rasa ingin tahu dan jiwa
pembelajarnya, tidak mudah putus asa dan suka membantu orang lain.
Nilai
dalam rapor bukanlah tujuan. Saya tidak tertarik untuk menanyakan kepada guru
atau bahkan pada anak saya tersebut mengenai nilai-nilai yang dia peroleh. Saya
lebih tertarik untuk menanyakan pengalamannya di sekolah hari ini. Bermain apa,
dengan siapa, apa kegiatan di kelas, apa yang dibuat, atau berbagi dengan
siapa.
Tentu,
membaca, menulis dan berhitung adalah wajib. Saya memberikan fasilitas itu pada
anak-anak di rumah. Mereka menyukai buku dan menulis. Bagi saya itu modal besar
untuk membangkitkan jiwa pembelajarnya.
Harapan
saya sederhana saja, anak-anak dapat menjadi warga dunia yang baik, dimana dan
kapanpun mereka berada. Baik tidak berarti penurut. Baik adalah memahami mana
yang benar dan salah, mana yang bisa diubah, tak bisa diubah dan mana yang
harus diubah. Pribadi yang utuh, punya prinsip, tidak ela elu, mampu menempatkan diri pada jamannya.
Komentar
Posting Komentar