Bincang-bincang Sepi
Dunia kian ramai,
ada semakin banyak kendaraan lalu lalang, ada semakin banyak orang bergerak
dengan cepat, sebentar di sana, sebentar sudah berpindah, bahkan tak hanya
pindah ruang tapi pindah kota atau negara. Segala berita ada di tangan, smartphone
yang selalu ramai dengan celotehan orang di media sosial. Menengok televisi,
hiruk-pikuk seluruh dunia terkabarkan di sana. Mulai dari berita penting, tokoh
penting, sampai berita tak penting dari tokoh penting. Tak hanya itu, berita
penting dari orang yang bukan tokoh penting, atau berita tak penting dari orang
tak penting, ada juga di sana.
Entah seperti apa
sepuluh, dua puluh, tiga puluh, lima puluh tahun setelah ini, setelahnya lagi,
dan lagi? Kian ramaikah? Kian cepatkah segala sesuatunya?
Aku merindukan
saat bisa duduk dalam sepi, memandang alam, tanpa gadget, tanpa celotehan ramai
di twitter, messenger, whatsapp, telegram, dan media sosial apa pun itu.
Bincang-bincang sepi dengan alam, celoteh burung yang terdengar, suara merdu
anak-anakku berlarian di halaman rumah, dan kekasihku yang senantiasa berkisah
tentang keajaiban alam, sembari sesekali memandangku dengan tatapan khasnya.
Bincang-bincang sepi, tanpa perlu emoticon berbagai macam, cukup dengan ketulusan
dan kekaguman dalam hati. Bahkan terkadang tanpa kata tercurah, sebab hati
terlampau penuh. Di sepi malam yang hampir habis, aku merindu lalu menulis.
Komentar
Posting Komentar